Google

Friday, December 28, 2007

Menghadirkan Healing Enviroment Pada Griya

Menghadirkan Healing Enviroment Pada Griya



Membangun rumah jangan hanya mementingkan fisik, tapi juga harus mampu menumbuhkan suasana nyaman dan sehat.

Setiap kali membangun rumah, yang pertama kali dilihat adalah kekuatan fisik maupun desainnya. Ini tentu tidak ada salahnya, tapi akan lebih baik apabila memperhatikan pula unsur lain yang tak kalah penting, yakni bagaimana menghadirkan kenyamanan sesuai konsep healing environment.

Healing enviroment selama ini mungkin belum familier diterapkan pada griya. Konsep ini di Indonesia memang masih lebih banyak diasosiasikan untuk merancang bangunan rumah sakit. Akan tetapi, seiring perkembangan teknik rancang bangun dan desain interior, konsep ini nyatanya bisa diaplikasikan pada sebuah tempat tinggal.

Namun pertama-tama, perlu diperjelas dahulu apa yang dimaksud dengan konsep healing environment tersebut. Seperti dijelaskan oleh desain interior dari Indonesian Interior and Architectural Space (INIAS), Naning Adiwoso, istilah healing enviroment adalah satu konsep yang sering disalahartikan sebagai berbagai fasilitas dalam rumah sakit.

Padahal esensinya lebih dalam dari itu. Healing environment bertujuan menciptakan suasana seimbang guna mendukung kesehatan jiwa maupun raga dalam satu kesatuan utuh dan terintegrasi. ''Jadi bukan sekadar membangun fasilitas fisik, melainkan menumbuhkan suasana nyaman dan sehat dalam sebuah bangunan,'' ungkap Naning pada acara Healthcare Seminar Series, di Jakarta, Rabu (31/5) lalu.

Di luar negeri, lanjut dia, healing environment ini sudah berkembang sejak tahun 90-an, dan telah banyak pula diterapkan pula pada bangunan rumah tinggal. Begitu pun di Indonesia, sejumlah pengembang maupun individu sudah mulai mewujudkannya demi memenuhi tuntutan dan kebutuhan lingkungan yang lebih sehat.

Naning menambahkan, dalam desain bergaya apa pun, baik modern minimalis, klasik, mediteranian, dan sebagainya, healing environment ini bisa diaplikasikan. Tinggal tergantung penyelarasannya dengan keseluruhan ruang serta elemen rumah.

Intinya, healing environment adalah membangun suasana, yakni bagaimana ketika masuk ke rumah, orang akan merasa enjoy, comfortable, atau secure. ''Jangan di pintu depan, kita sudah harus melihatnya dengan cat berwarna hitam, tentu akan langsung merasakan kesan tidak baik. Pilihlah warna dengan motif yang nyaman dan menentramkan,'' kata Naning mencontohkan.

Begitu juga ruang tamu atau makan, pemakaian warna soft serta penataan lighting dan interior yang tepat, akan mampu mendukung penyajian konsep tadi. ''Hindari pemilihan warna ngejreng, misalnya orange, atau peletakan lukisan dinding bergambar gelap, ini justru akan sangat mengganggu.''

Naning mengingatkan, membangun suasana bukan sekadar dilihat dari desain fisik rumah, jenis furniture atau ornamennya, melainkan padu padannya semua unsur-unsur untuk dapat memberikan rangsangan positif bagi kelima panca indera. ''Kita pasti tidak mengharapkan sewaktu masuk ke rumah, ada bau sampah yang menyengat, udara terasa sumuk atau melihat pemandangan rumah tidak tertata rapi,'' dia menjelaskan.

Tiga unsur
Pada dasarnya terdapat tiga unsur penting yang perlu diperhatikan dalam mewujudkan konsep healing environment, yakni body, mind, dan spirit. Dengan ergonomi body yang leluasa, dukungan desain yang membawa kesejukan bagi mind, pada akhirnya akan dapat mendorong spirit ke arah keseimbangan fungsi.

Oleh karenanya tidak ada penerapan aturan baku di sini. Semua diserahkan pada keinginan, usia, selera, dan budaya masing-masing individu. ''Tergantung gaya hidupnya seperti apa, jika dia bergaya modern, tapi memilih warna cat yang klasik, contohnya, kan jadi kurang pas,'' imbuh Naning.

Lebih jauh, diungkapkan beberapa prinsip pada kaitan ini. Pertama, healing environment harus memperhatikan kebutuhan akan rasa nyaman dan harga diri sebagai manusia, kedua, pengetahuan bisa menjadi kunci utama untuk mengurangi rasa takut, desain yang meningkatkan pemahaman juga bisa mendorong berkembangnya healing environment.

Ketiga, hubungan antarpikiran dengan tubuh, placebo dan biologi keyakinan, memiliki dampak terhadap kesehatan dan kesejahteraan individu. Desain sebuah healing place setidaknya harus bisa mendukung pembangkitan kekuatan manusia untuk mengatasi segala hal yang negatif.

Keempat, semakin banyak bukti menyatakan bahwa akses ke alam akan sangat berarti dan menyenangkan. Kelima, healing environment harus memperhatikan kebutuhan mendasar dan hasrat manusia untuk mencari arti spiritual dalam lingkungan yang 'menekan'. yus

Mampu Meminimalisasi Gejala Stres

Di samping pada desain rumah, healing environment pun dapat diterapkan pada rancangan taman serta tanaman indoor. Menurut pendapat arsitek landskap, Anggia Murni, semakin canggih dan modern suatu masyarakat, maka kebutuhan akan sebuah suasana yang alami akan tidak terelakkan guna menghadirkan keseimbangan.

Nuansa alami seperti pada kebun, taman, atau tanaman dalam pot, secara psikologis akan mampu menumbuhkan elemen-elemen positif pada diri seseorang, mengurangi emosi negatif serta meminimalkan gejala stes. Sehingga cukup penting fungsi sebuah taman dalam mendukung proses penciptaan healing environment tadi. Penataannya pun harus mampu menciptakan suasana menyenangkan, nyaman, serta alami.

Dikatakan, pemilihan jenis tanaman dan landskap ornamen (geseran kaki, foot path, batu alam), harus disesuaikan dengan desain rumah secara keseluruhan. ''Arsitektur, arsitektur landskap, maupun desain urban sudah menjadi kesatuan integral,'' kata dia lagi.

Maka dari itu, kehadiran indoor plants misalnya, harus direncanakan dari awal bersamaan dengan perencanaan bangunan. Konsep ini juga harus berkaitan dengan jenis tanaman (sesuaikan dengan atmosfer bangunan), aklimatisasi, mobilisasi dan waktu penanaman, media tanam, pencahayaan, serta perawatan.

Unsur penempatannya pun, lanjut dia, tidak bisa sembarangan. Ruang untuk indoor plants harus memperhitungkan tinggi atau dalamnya planters box, sistem pengairan, pot bersifat menetap atau rotasi, dan tidak menganggu sirkulasi manusia. Adapun prinsip desain pada kaitan ini antara lain simpel, keragaman, keseimbangan, skala, dan keutamaan.
(n yus )

No comments: